Friday, January 9, 2015

Anak Usia 6 Tahun Suka Teriak Sendiri Menjelang Maghrib, Indigo?

Salam kenal dr Azimatul. Saya ibu dari satu orang anak usia 6 tahun. Kalau menjelang maghrib anak saya itu suka teriak-teriak sendiri katanya ada orang seram entah di tangga, garasi, taman, atau teras. Banyak yang bilang anak saya indigo, apakah benar indigo itu memang ada Dok? Lalu bagaimana dengan skizofrenia? Apa gejalanya bisa muncul di anak 6 tahun? Sebelumnya anak saya tidak punya trauma apa-apa Dok.

Andina (Perempuan menikah, 36 tahun)
andinaprimaXXXXXX@gmail.com
Tinggi badan 161 cm, berat badan 56 kg

Jawaban

Ibu Andina yang baik,

Terima kasih atas kepercayaannya. Dalam psikiatri, kami tidak mengenal istilah indigo. Ibu bisa mendapat informasi mengenai definisi 'indigo' dari link ini http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_Indigo. Berdasarkan cerita Ibu, tampaknya putranya tampak ketakutan terutama bila menjelang matahari terbenam. Dan tampaknya putra Ibu mengalami masalah dengan persepsi visualnya (halusinasi visual).

Dia mungkin melihat sesuatu yang menurutnya menakutkan, ini harus dikonfirmasi lagi kepada putranya. Apa benar dia melihat sesuatu yang menakutkan atau mengerikan? Seperti apa? Bagaimana bentuknya? Atau ada problem persepsi yang terkait panca indera yang lain. Memang halusinasi adalah salah satu gejala skizofrenia, namun harus dipastikan terlebih dahulu dengan ada atau tidaknya gejala yang lain yang mengarah pada skizofrenia.

Skizofrenia bisa muncul sangat dini pada usia sekitar 5 tahun dengan faktor resiko genetik yang sangat kuat. Namun perlu dilakukan pemeriksaan secara seksama sebelum kita menentukan diagnosis tersebut. Dan sebaiknya diagnosis ditegakkan oleh psikiater atau psikiater anak mengingat penanganan skizofrenia pada masa kanak akan sangat spesifik selain itu juga akan sangat berkaitan dengan tumbuh kembang selanjutnya.

Alangkah baiknya bila Ibu Andina tidak menunda-nunda lagi agar putranya bisa mendapatkan penanganan yang baik sehingga bisa tumbuh dengan optimal di kemudian hari.

Salam hangat.

dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ

Wednesday, January 7, 2015

Operasi dengan EVT Bagi Bayi Hidrosefalus

Dok, mohon penjelasan tentang operasi dengan EVT bagi bayi hidrosefalus dan rumah sakit mana yang sudah bisa melakukannya? Terimakasih.

Jamal Hidayat (Pria menikah, 35 tahun)
jamalhidayXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 165 cm, berat badan 60 kg

Jawaban

Endoscopic third ventriculostomy (ETV) adalah tindakan alternatif selain pemasangan shunt untuk penderita hidrosefalus. Dokter bedah saraf akan membuat lubang di ventrikel ketiga sehingga kelebihan cairan otak akan dialirkan ke daerah subarachnoid untuk diserap, sehingga derajat hidrocephalus akan berkurang.

RS rujukan yang memiliki dokter bedah saraf dan alat ETV sudah bisa melakukannya. Silakan ditanyakan ke RS terdekat.

dr Melisa Anggraeni, SpA

Tuesday, January 6, 2015

Ingin Berumah Tangga Tapi Dihantui Trauma Perceraian Orang Tua

Salam dok, saya mau tanya sejak kecil saya selalu melihat orang tua bertengkar hingga usia saya 24 tahun (tahun lalu) orang tua saya bercerai. Tapi kok saat ini saya merasa trauma jika pacar saya mengajak saya menikah ya Dok? Kira-kira bagaimana ya Dok mengatasi perasaan takut atau trauma seperti itu?

Vidya (Wanita lajang, 25 tahun)
vidya_lizaXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 165 cm, berat badan 49 kg

Jawaban

Halo, Mbak Vidya senang berjumpa dengan Anda. Terimakasih atas keterbukaan Anda.

Melihat pertengkaran orang tua untuk seroang anak merupakan sebuah ingatan yang kurang menyenangkan dalam hidupnya. Apalagi kalau Anda telah menyaksikan pertengkaran itu lama sekali. Kemungkinan Anda mengalami trauma (emosional dan psikologis) akibat melihat pertengkaran orang tua Anda, saya kurang mendapat informasi seperti apa pertengkaran yang pernah Anda saksikan.

Sudah pasti seorang anak yang melihat kejadian semacam itu akan merasakan perasaan insecure (rasa tidak aman) yang harusnya dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Itu jugalah yang Anda rasakan terhadap calon suami (pasangan) Anda. Melalui proses belajar (melihat, mendengar, mengalami) dari kejadian yang menimpa orang tua, Anda mulai berpikir dan mengantisipasi munculnya kejadian serupa pada pernikahan Anda kelak. Kemungkinan besar itu yang terjadi pada Anda saat ini. Rasa takut dan cemas hal itu akan berulang dalam kehidupan Anda sehingga Anda ragu-ragu untuk membuat keputusan penting dalam hidup Anda.

Mengatasi perasaan takut itu berarti mengatasi pula segala macam emosi yang timbul akibat trauma yang pernah Anda alami. Ada baiknya Anda menceritakan problem ini pada seorang professional (psikolog atau psikiater) agar bisa dilakukan trauma healing. Seringkali, klien dengan trauma berharap agar bisa melupakan ingat traumatic yang dialaminya. Namun sebetulnya tidak demikian harusnya, dalam trauma healing (menggunakan metode apapun) klien akan digiring pada sebuah penerimaan (secara kognitif, emosi maupun secara perilaku) bahwa kejadi traumatic tersebut merupakan bagian dari masa lalunya. Sehingga harapannya melalui proses terapi, klien juga dapat memetik sebuah pelajaran positif dari pengalaman di masa lalunya yang bisa dipakainya dalam kehidupan selanjutnya.

Hal penting yang lain, apakah calon suami Anda sudah paham dengan masalah ini? Keterbukaan serta komunikasi yang baik merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam sebuah pernikahan. Meskipun kemungkinan Anda trauma terhadap pernikahan (orang tua) Anda, namun disadari atau tidak, nantinya suami Anda adalah orang terdekat yang akan membantu Anda melalui kehidupan setelah pernikahan. Oleh karena itu, mulai saat ini perlu kiranya Anda berdua dengan calon suami membangun sebuah komunikasi dan rasa percaya sehingga pengalaman pahit yang pernah menimpa Anda dapat diatasi dan dilalui bersama dengan calon suami. Bila memang diperlukan, Anda bisa meminta professional untuk melakukan konseling pra nikah kepada Anda dan calon suami untuk mempersiapkan diri lebih matang sebelum masuk ke tahapan kehidupan yang baru.

Semoga jawaban ini membantu Anda.

Salam hangat.

dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ

Monday, January 5, 2015

Punya Sifat 'Mikiran' Bahkan Sampai Terbawa Mimpi, Bagaimana Mengatasinya?

Assalamualaikum Dokter, saya ini orangnya selalu 'mikiran', ada masalah sedikit itu hati saya kayak nggak tenang, susah tidur, bahkan masalah itu sampai kebawa mimpi. Apakah sifat atau karakter 'mikiran' itu bisa diubah Dok? Atau minimal bagaimana caranya supaya saya nggak terlalu memikirkan masalah itu dok? Terimakasih.

Wanadelianto (Laki-laki menikah, 48 tahun)
wanadeXXXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 168, berat badan 65 kg

Jawaban

Alaikumsalam wr wb,

Pak Wanadelianto, baik sekali bila Bapak sudah memahami karakter kepribadiannya. Sifat pemikir dalam psikiatri disebut sebagai obsesif. Ketika seorang pemikir mendapatkan stimulus, maka stimulus itu akan dipikirkan secara berulang-ulang, terus menerus dan sering kali pikiran ini sulit dihentikan. Dampaknya, orang tersebut akan mengalami: ketegangan otot, kecemasan (was-was, khawatir) bahwa apa yang dipikirkan (terutama yang pikiran negatif) akan terjadi betul pada dirinya.


Kecenderungan mengantisipasi secara berlebihan terhadap hal-hal negative yang belum terjadi. Lelah mental karena tidak berhasil menghentikan pikiran tersebut Bila tidak mendapatkan solusi, pikiran tersebut akan masuk kealam bawah sadar dalam bentuk mimpi dan biasanya yang dialami adalah mimpi buruk (nightmare).

Seseorang dengan karakter semacam ini biasanya perfeksionis (selalu ingin sempurna) dan punya target tinggi dalam kehidupannya. Karakter semacam ini tidak bisa hilang lenyap dari kepribadian seseorang karena ini terbentuk sejak kecil. Namun, derajatnya bisa dikurangi menjadi lebih ringan dan diatur sedemikian rupa sehingga orang tersebut tidak merasa terganggu.

Untuk mengatasi hal ini perlu Bapak sadari beberapa hal apa saja yang memicu Bapak untuk memikirkan ini terus menerus? Biasanya ada pola tertentu yang memicu seseorang memikirkan hal tersebut berulang-ulang, apakah masalah itu penting? Apakah termasuk hal-hal yang kurang penting? Bila hal tersebut tidak menjadi focus perhatian Bapak, apa konsekuensinya? Apakah Bapak pernah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan berhubungan dengan kebiasaan 'mikiran' ini?

Setelah teridentifikasi masalahnya, barulah bisa kita lakukan skala prioritas terhadap hal-hal yang bisa menstimulus untuk dipikirkan berulang-ulang. Pikirkan hal-hal yang menjadi prioritas terlebih dahulu dan pikirkan yang kurang prioritas kemudian. Batasi mana masalah yang harus dipikirkan saat ini, mana masalah yang dipikirkan besok, mana masalah yang dipikirkan minggu depan dst.

Untuk mengatasi problem tidur, lakukan relaksasi sebelum tidur, serta hal-hal positif yang lain yang dapat membantu untuk relaks/santai seperti meredupkan lampu kamar, tidak menyalakan televise dalam kamar, perhatikan suhu kamar, tatalah kamar agar menjadi tempat yang menenangkan, tidak berisik, hindari membaca buku sebelum tidur agar tidak memicu pikiran obsesif. Makan pisang dan minum susu setengah jam sebelum tidur dapat membantu meningkatkan hormone serotonin otak yang bisa membantu untuk membuat tidur lebih nyenyak.

Selamat mencoba dan semoga berhasil. Salam hangat.

dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ

Sunday, January 4, 2015

Keringat Berlebihan di Telapak Tangan yang Bikin Tak PD

Assalamualaikum, maaf Dok telapak tangan dan kaki saya sering keluar banyak keringat sejak umur 9 tahunan. Tidak PD untuk bergaul, karenanya. Sekarang pun sedang keluar keringat. Tolong Dok. Terimakasih, wassalam.

Dedi (Laki-laki menikah, 48 tahun)
supriatnaDXXXXXX@gmail.com
Tinggi badan 170 cm, berat badan 90 kg

Jawaban

Alaikumsalam wr wb.

Keluhan Pak Dedi sudah lama sekali ya,

Banyak berkeringat (hyperhydrosis) terjadi akibat hiperaktivitas kelenjar keringat. Orang awam sering menyebut keluhan ini sebagai tanda 'jantung lemah'. Namun sebetulnya dalam bidang kedokteran, kami tidak mengenal istilah jantung lemah.

Mengingat gejala yang dialami Pak Dedi sudah terjadi sejak kecil, mohon diingat kembali pada masa itu apa yang sudah Bapak alami. Hyperhydrosis sebagai akibat dari hiperaktivitas syaraf otonomik, merupakan salah satu tanda ketika seseorang mengalami kecemasan sejak lama. Atau boleh dibilang pak Dedi ini adalah seorang pencemas yang cukup berat.

Untuk mengatasinya, maka perlu digali terlebih dulu penyebabnya. Apakah pengasuhan orang tua yang terlalu menekan atau mengekang? Apakah ada trauma di masa kecil (dibully teman, di sekolah, dipermalukan dll)?

Bila sudah ditemukan, maka kita akan melakukan terapi yang berawal dari masa kecil itu. Terapi yang dapat dilakukan antara lain: psikoterapi, hipnoterapi, terapi relaksasi, terapi kognitif dll.

Selain terapi di atas, kemungkinan perlu diberikan terapi farmakologis yang bisa meringankan gejala otonomik yang Bapak alami. Menurut saya, segera konsultasikan dengan psikiater mengingat Bapak sudah cukup (terlalu) lama mengalami keluhan yang tidak menyenangkan ini. Bicarakan secara terbuka agar segera ketemu solusi terbaik untuk masalahnya.

Salam hangat.

dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ