Thursday, April 9, 2015

Berat Badan Ideal Tapi Bentuk Tubuh Tak Ideal, Adakah yang Salah?

Saya lajang umur 23 tahun. Di usia seperti ini menurut beberapa orang mengatakan bahwa saya mempunyai tubuh ideal dengan berat badan 51 dan tinggi badan 152 namun mengapa pada saat berkaca tubuh terlihat bulat dan jauh dari ideal?

1. Bisakah seusia saya menambah tinggi badan beberapa mili atau centi?
2. Saya berencana mengecilkan beberapa bagian tubuh yang saya rasa berisi berlebih dan sedikit menurunkan berat badan dengan melakukan gym maupun berbagai senam namun tubuh tidak terjadi perubahan dan berat badan saya naik turun tak beraturan dengan range 49-51 dari segi makan sehari 2 kali di siang dan malam hari atau pagi dan malam hari. Sehatkah tubuh saya? Adakah yang salah dengan program yang saya lakukan?

Ndadheetya (Wanita, 23 tahun)
ndadheetya.dheeXXXXXXX@hotmail.com
Tinggi badan 152 cm, berat badan 51 kg

Jawaban

Ndadheetya, perlu Anda ketahui bahwa memiliki berat badan ideal tidak berarti akan memiliki bentuk tubuh ideal. Ideal tidaknya bentuk tubuh sangat erat dengan penilaian subyektivitas sehingga tidak dapat dinilai hanya secara obyektif. Oleh sebab itu saya setuju untuk dilakukan beberapa usaha perbaikan agar keinginan tersebut dapat dicapai.

Tinggi badan di usia ini secara teori tak dapat bertambah lagi namun bilamana ternyata Anda mengidap kelainan tulang belakang misalnya skoliosis maka masih ada harapan penambahan beberapa sentimeter yang berasal dari perbaikkan skoliosis tersebut.

Suatu usaha yang tidak memperlihatkan hasil belum tentu tidak berhasil karena mungkin saja hal itu belum waktunya memperlihatkan hasil yang diinginkan. Oleh karena itu saya menganjurkan sebelum melakukan program latihan apapun sebaiknya melakukan pengukuran baik itu berat badan, lingkar tubuh, tebal lipatan kulit-lemak termasuk juga pemeriksaan komposisi lemak tubuh sehingga penilaian tersebut tidak hanya subyektif namun juga obyektif.

Mengenai pola makan saya menganjurkan untuk tetap makan 3 kali sehari yang tentunya lebih sehat dibandingkan dua kali sehari. Prinsip dasarnya adalah tubuh harus mendapatkan jumlah makanan yang cukup terlebh dahulu baru mampu berolahraga dengan baik.

dr. Michael Triangto, SpKO

Wednesday, April 8, 2015

Makanan untuk Anak 6 Bulan yang Alergi Susu Sapi

Anak saya usia 6 bulan dan mulai sudah makan, tapi anak saya terkena alergi susu sapi dan oleh dokter disarankan dari bayi minum susu alergi merk tertentu. Menu makan apa ya yang cocok diberikan untuk anak saya supaya bisa terpenuhi gizinya tanpa menimbulkan reaksi alergi buat dia? Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.

Meym3y (Wanita, 34 tahun)
agusgendu.45XXXXXX@gmail.com
Tinggi 152 cm, berat 60 kg

Jawaban

Halo Bu Meymey,

Alergi makanan biasanya akan berkurang di atas umur 2 tahun atau menghilang di atas umur 5 tahun (95% kemungkinan). Terutama jika alerginya tidak life threatening, maksudnya tidak sampai anaphylaxis yaitu penyempitan saluran pernapasan.

Sebelum 1 tahun tidak apa-apa tetap lanjutkan susunya dan hindari produk susu sapi lainnya. Juga ibu harus tetap waspada untuk kemungkinan alergi terhadap makanan lain seperti produk soya, kacang dan telur. Jika anak ibu tidak anaphylaxis, ada 2 opsi untuk memperkenalkan makanan padat setelah di atas 1 tahun.

-Tetap hindari terus produk susu sampai usia 2 tahun, lalu tes kulit untuk alergi (skin prick test)
-Mulai memperkenalkan produk susu dengan jumlah sangat sedikit dengan konsisten setiap hari untuk mengetahui batas toleransi anak. Bisa dimulai dari meneteskan susu sapi ke kulit anak.

Namun opsi ini hendaklah dilakukan bersama dokter atau health care profesional karena takutnya muncul gejala alergi parah. Tentu hanya ibu yang bisa menimbang, bagaimana baiknya untuk memperkenalkan makanan berisiko alergi kepada anak.

Untuk produk lain yang bisa diberikan seperti susu soya (awasi, ada risiko alergi juga ke sini) dan susu kacang almond. Tergantung sifat alerginya, apakah alergi terhadap protein susu atau laktosa, bisa diberikan yoghurt dan keju jika alergi terhadap laktosa saja.

Leona Victoria Djajadi MND

Tuesday, April 7, 2015

Bersin dan Hidung Tersumbat Hampir 3 Bulan, Bagaimana Solusinya?

Dok, saya mengalami flu yang hampir 3 bulan ini tidak sembuh. Sebelumnya saya penah ke dokter, di sana saya didiagnosa mempunyai alergi hidung lalu diberikan 3 jenis obat, jika obat habis tidak sembuh maka harus pakai obat semprot kata dokter. Obat habis dan saya masih mengalami flu, flu yang saya maksud di sini, sering bersin, hidung tersumbat, batuk jarang sekali, bibir atas terasa kering dan sesekali seperti mati rasa.

Tubuh rasa tidak enak seperti masuk angin, tidak ada ingus seperti flu pada umumnya, hanya cairan putih cair yang kadang menetes dari rongga hidung. Dan beberapa akhir ini pipi kiri, saya mengalami bengkak, namun berselang satu jam bengkak itu hilang. Dan bengkak itu sudah terjadi 3 kali.

Saya perokok dan sering bekerja di depan komputer. Tidak pernah melakukan hal-hal berisiko tertular penyakit HIV, tapi saya merasa setiap hari seperti tidak enak badan itu Dok. Apakah ada tempat rujukan periksa untuk hal yang saya alami ini Dok? Terimakasih.

Radioaktif123 (Pria, 28 tahun)
yungky0217XXXXXX@gmail.com
Tinggi 175 cm, berat 55 kg

Jawaban

Mencermati deskripsi singkat di atas, kemungkinan besar mas Yungky menderita rhinosinusitis atau rhinitis.

Rhinitis ini dibagi menjadi dua, yaitu: rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi. Rhinitis alergi dipicu oleh alergen. Rhinitis nonalergi bisa dipicu oleh: perubahan musim atau cuaca, terpapar bau atau asap rokok, perubahan tekanan barometrik, dsb.

Rhinitis alergi dapat diterapi dengan cara menghindari alergen, pemberian antihistamin (oral dan intranasal), kortikosteroid intranasal, kromon intranasal, antagonis reseptor leukotriene, dan imunoterapi. Terkadang kortikosteroid sistemik dan dekongestan (oral dan topikal) juga digunakan.

Rhinitis nonalergi memiliki 8 subtipe mayor, yaitu: rhinopati nonalergi (rhinitis vasomotor), rhinitis nonalergi dengan eosinofilia, rhinitis atrofi, rhinitis senile, rhinitis gustatori, drug-induced rhinitis, hormonal-induced rhinitis, dan cerebral spinal fluid leak. Terapi utamanya adalah kortikosteroid intranasal. Antihistamin topikal juga efektif. Antikolinergik topikal seperti ipratropium bromide (0.03%) nasal spray efektif mengatasi gejala rhinorrhea (hidung tersumbat, bersin-bersin, hidung meler). Terapi tambahan termasuk dekongestan dan nasal saline. Terapi investigational rhinitis nonalergi misalnya: capsaicin, silver nitrate, dan akupunktur.

Evaluasi efektif penderita rinitis meliputi: penentuan pola penyakit, kronisitas (lamanya), munculnya tanda/gejala, respon terhadap obat, ada tidaknya gangguan/penyakit penyerta, paparan pekerjaan, lingkungan tempat tinggal dan bekerja, identifikasi faktor pencetus/penyebab, serta penilaian kualitas hidup.

Pemeriksaan komprehensif mutlak diperlukan dokter mengingat ada beberapa kondisi yang menyerupai rhinitis, seperti: polip nasal, deviasi septum nasi, tumor, hipertrofi adenoid atau bagian nasal turbinate hidung, refluks laringofaringeal, kebocoran cairan serebrospinal, disfungsi silier primer/sekunder.

Bila sudah memeriksakan ke dokter umum, diberi terapi, dan belum membaik, maka dipersilakan berkonsultasi ke dokter spesialis THT terdekat di kota Anda.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo

Saturday, April 4, 2015

Mana yang Lebih Aman Dikonsumsi Ibu Hamil, Susu UHT atau Susu Pasteurisasi?

Dokter Yth. Istri saya saat ini sedang hamil 3 bulan. Apakah cocok dia mengonsumsi susu pasteurisasi atau UHT? Terimakasih atas jawabannya.

Ichan Hidayat (Pria, 27 tahun)
ichan_procXXXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi 180 cm, berat 85 kg

Jawaban

Halo Mas Ichan,

Susu dibedakan menurut tehnik sterilisasi atau membersihkan dari kuman. Seperti kita ketahui bahwa susu mentah mungkin mengandung bakteri jahat, sehingga harus dilakukan tehnik untuk membersihkan dari kuman.

Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan hingga suhu 70-75ºC selama sekitar 15 detik, sedangkan UHT (Ultra High Temperature) melakukan proses pemanasan hingga 150ºC selama 5 detik. Proses pasteurisasi membunuh semua bakteri jahat, masih ada bakteri baik yang tersisa dan apabila diminum tidak menimbulkan penyakit, bakteri baik inilah yang masih bisa membuat susu pasteurisasi mudah basi dibanding susu UHT. Pada susu UHT, semua bakteri dibunuh karena suhu pemanasannya lebih tinggi, sehingga bertahan lebih lama dalam penyimpanan dibanding susu pasteurisasi.

Sisi negatif dari pemanasan yang lebih tinggi tentu saja semakin banyak kandungan nutrisi dari susu yang menghilang, walaupun bedanya hanya sedikit dari beberapa penelitian dikatakan antara 3-5%. Perbedaan ini tidak terlalu besar, sehingga susu UHT pun juga dilegalkan di seluruh negara di dunia.

Kalau dianalisa tentu saja pembicaraan mengenai kenyamanan membeli lebih sering dibanding lebih jarang, antara cepat busuk atau lama busuk. Apabila Anda tipe orang yang rela ribet untuk lebih sering beli dan siap akan kemungkinan mudah busuk, maka saya sarakan beli pasteurisasi. Kalau tidak ingin ribet, beli susu UHT juga bisa. Perbedaan nutrisi 3-5% tidak terlalu bermakna untuk orang hamil.

Sehingga keputusan di tangan Anda dan pasangan.

Semoga bermanfaat.

dr. Hari Nugroho, SpOG

Mengatasi Sakit Saat Menelan

Kenapa ya tiba-tiba tenggorokan saya itu terasa sakit saat menelan, tanpa ada penyebabnya. Memang sebelumnya saya pernah menderita amandel tetapi sudah lama sekali, saya juga sudah sangat jarang mengonsumsi es. Sakit di tenggorokan saya ini tiba-tiba Dok.

Pada saat saya tidur malam sebelumnya baik-baik saja, namun sakit ini tidak disertai demam, batuk ataupun pilek. Mohon bantuannya ya Dok. Terimakasih.

Dekbibi (Wanita, 22 tahun)
febiutami95XXXXXX@yahoo.com
Tinggi 155 cm, berat 50 kg

Jawaban

Sakit saat menelan di dalam dunia kedokteran disebut sebagai odinofagia (odynophagia) atau phagadynia. Odinofagia merefleksikan adanya proses inflamasi (peradangan) berat yang melibatkan mukosa (selaput) esofagus atau otot esofagus (jarang).

Penyebabnya beragam, seperti: gangguan proses pencernaan, esofagitis yang disebabkan obat/pil, cedera karena radiasi, dan infeksi (Candida, herpes, cytomegalovirus).

Penyebab sakit saat menelan (odinofagia) secara rinci dijelaskan berikut ini.

Pertama, obat-obatan penyebab esofagitis contohnya: antibiotik (terutama doksisiklin), potassium chloride (slow release), quinidine, iron sulfate, zidovudine, NSAIDs.

Kedua, penyebab cedera (trauma), misalnya: robekan mukosa esofagus benigna, trauma faring, trauma esofagus.

Ketiga, gangguan infeksius atau infeksi bisa disebabkan oleh karena: sariawan (stomatitis aphthous), difteri, rabies, perikarditis viral akut benigna,  Streptococcal pharyngitis (beta type A), CMV (citomegalovirus), kandidiasis esofagus (jamur), HFMD (Hand, foot and mouth disease atau penyakit tangan, kaki, dan mulut), Herpes simplex, Monilia pharyngitis (sejenis sariawan).

Keempat, gangguan otoimun, kolagen, dan alergi, seperti: penyakit Crohn esofagus, esofagus skleroderma, skleroderma progresif sistemik.

Kelima, keracunan bahan/zat tertentu, antara lain: agen korosif, bahan yang bersifat asam, bahan yang bersifat basa (alkali) korosif, cantharidin, chromium trioxide hexavalent, detergen kationik, fenol/carbolic acid, formaldehyde (formalin),iodine, lye/sodium hydroxide, pemutih (bleach/clorox), sejenis bunga mangkok (Buttercup; Ranunculus), silver nitrate, tanaman (spesies Arum, Caladium, Dieffenbachia atau Dumb cane, Philodendron).

Keenam, gangguan endokrin, otonom, vegetatif, contohnya: esophageal free reflux/sindrom GERD, nutcracker esophagus/spasm diffuse, spasme esofagus/dismotilitas.

Ketujuh, indikasi gangguan sistem organ, berupa: esofagitis, esofagogastritis korosif, esofagitis peptik kronis, faringitis agranulositik, perikarditis, sindrom Barrett's esophagus, sindrom Plummer-Vinson.

Kedelapan, keganasan, berupa: kanker tenggorokan/kerongkongan, kanker esofagus, kanker kepala dan leher, kanker laring (ekstrinsik atau spindle cell), kanker mulut, metastasis (penyebaran) ke esofagus.

Odinofagia biasa dijumpai pada penderita esofagitis ulseratif berat. Odinofagia terkadang ditemukan pada kasus GERD (gastroesophageal reflux disease) atau karsinoma esofagus (kanker kerongkongan), meskipun relatif jarang.

Berikut ini solusi untuk mengatasi sakit saat menelan (odinofagia):
1. Berkumur dengan cairan antiseptik 2-3 kali/hari, maksimal selama lima hari.
2. Hindari konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak curah.
3. Hindari konsumsi makanan/minuman yang beraroma tajam atau pedas.
4. Hindari konsumsi makanan yang berpengawet.
5. Memakan makanan yang lunak.
6. Meminum minuman hangat.
7. Hindari es, minuman beralkohol.
8. Konsumsi jus lidah buaya dan jus buah.
9. Berpuasa, diiringi peningkatan kualitas spiritual dalam arti luas.

Bila solusi di atas sudah dilakukan dalam 1-2 minggu namun belum ada perbaikan, maka dipersilakan memeriksakan diri ke dokter terdekat.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

dr. Dito Anurogo,