Wednesday, February 11, 2015

Anak 2 Tahun Didiagnosis Typhus, Perlukah Konsultasi ke Internis?

Dokter, anak saya yang berusia 2 tahun divonis typhus tingkat 4 oleh dokter. Anak saya diresepkan dengan colsancetine syrup dengan dosis 3 x 500 mg selama 9 hari.

Yang ingin saya tanyakan:
1. Apakah dosis tersebut aman? Mengingat usia anak saya 2 tahun kurang 4 hari dengan berat badan 13,5 kg
2. Ada berapakah tingkat typhus? Dan maksud dari typhus tingkat 4 itu apa ya Dok?
3. Kapan waktu yang tepat untuk kembali memeriksakan darah ke laboratorium, serta apakah vaksin demam tifoid masih perlu diberikan?
4. Perlukah saya berkonsultasi dengan internis?

Sekian, dan terimakasih banyak saya ucapkan kiranya dokter dapat meluangkan sejenak waktunya untuk menjawab pertanyaan saya.

Yensri (Wanita menikah, 29 tahun)
yensri_yenXXXXXXX@yahoo.com
Tinggi 166 cm, berat 65 kg

Jawaban

1. Dosis colsancetine syrup yang mengandung chloramphenicol adalah 15-25 mg/kg/dosis. Pada kondisi infeksi berat dapat kita berikan 40-50 mg/kg/dosis. Kalau dilihat dari rentang dosis tersebut, anak Ibu diberikan obat yang masih dalam rentang dosis aman.
2. Penyakit thyphus belum ada derajat klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Mungkin yang dimaksud dengan penjelasan dokter Ibu adalah kadar pemeriksaan IgM anti Salmonella Tubex-nya, di mana dinyatakan positif apabila kadarnya antara 4-10.
3. Kesembuhan penyakit thypus tidak perlu dipastikan dengan pemeriksaan darah, cukup dengan menilai kondisi klinis anak Ibu.
4. Ibu tidak perlu berkonsultasi dengan internis, karena usia anak Ibu masih 2 tahun. Jika Ibu ingin berkonsultasi bisa dengan dokter spesialis anak subspesialis/konsultan infeksi tropis.

dr Melisa Anggraeni, SpA

Saturday, February 7, 2015

Terdapat Varises di Rahim, Bisakah Disembuhkan?

Salam kenal Dok, saya ibu dari 2 orang putra, yang pertama berusia 4 tahun dan yang kedua berusia 1 tahun. Saya pernah mengalami keguguran 1 kali dan juga pernah terkena virus mola yang menyebabkan hamil anggur dan pendarahan hebat. Saat ini saya ingin KB tapi oleh dokter kandungan saya dilarang, baik KB spiral maupun hormonal, karena setelah di-USG dalam rahim saya terdapat pembuluh darah yang besar-besar (varises).

Kata dokter saya kalau saya KB takutnya pembuluh darahnya akan semakin membesar dan bisa terjadi pendarahan. Bisakah disembuhkan Dok penyakit saya ini? Apakah ini efek pernah terkena mola atau ini faktor keturunan? Saya sering merasa nyeri di perut begitu juga saat berhubungan dengan suami. Apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan rasa nyeri ini? Terimakasih Dok.

Vera (Wanita menikah, 25 tahun)
diba_arfiXXXXX@yahoo.com
Tinggi 160 cm, berat 55 kg

Jawaban

Halo Ibu Vera, salam kenal juga.

Pembuluh darah besar-besar di samping kanan kiri rahim biasa didiagnosa dengan Pelvic Congestion Syndrome (PCS). Hal ini kadang terjadi setelah kehamilan walaupun hingga sekarang tidak ada data yang cukup untuk mengetahui berapa angka kejadian PCS ini. Salah satu penyebab nyeri yang Anda alami adalah hal ini. Penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui dan dikatakan multifaktorial, tetapi memang salah satu penyebabnya dalam kasus Anda adalah kehamilan anggur (mola hidatidosa) sebelumnya yang mengakibatkan tingginya kadar hormonal tertentu.

Sayangnya saya tidak memeriksa sendiri dan data yang saya terima tidak cukup untuk saya buat kesimpulan, tetapi pemberian pil KB hormonal dapat dicoba untuk mengurangi keluhan dan juga untuk kontrasepsi, walaupun ada risiko pembuluh darah dapat makin besar, tetapi hal ini dapat juga mengurangi bendungan dan akhirnya mengurangi nyeri. Selain hormonal dapat juga memakai kontrasepsi IUD (dikenal dengan spiral), selama organ di dalam rahim normal boleh dipakai IUD.

Obat-obatan anti nyeri dan hormonal hanya mengurangi keluhan memang, untuk terapi pastinya harus dilakukan embolisasi dan sejujurnya saya masih kurang tahu apakah sudah ada yang melakukan embolisasi pada kasus PCS di Indonesia.

Semoga bermanfaat.

dr. Hari Nugroho, SpOG

Friday, February 6, 2015

Remaja yang Tak Percaya Diri karena Ukuran Payudaranya

Saya berumur 19 tahun. Saya punya keluhan, kenapa kondisi fisik saya tidak seperti remaja berumur 19 tahun pada umumnya? Yang paling saya khawatir kan adalah bentuk payudara saya. Payudara saya seperti tidak terlihat membesar dan mengganggu percaya diri saya apalagi dalam memilih pakaian. Tolong solusinya. Terimakasih.

Tfnyprdn (Wanita lajang, 20 tahun)
dellaparadiXXXXXX@ymail.com
Tinggi 150 cm, berat 42 kg

Jawaban

Dear kamu yang sedang bingung,

Setiap individu pasti memiliki kondisi tubuh yang berbeda-beda dan kecepatan perkembangan yang berbeda pula. Jika saat ini kamu menganggap bahwa tubuh kamu tidak seperti anak lain seusia kamu, tidak perlu risau selama memang kamu sehat dan mampu berkarya serta beraktivitas.

Syukuri segala kondisi yang saat ini kamu miliki dan jika memang memiliki beberapa kesulitan dalam beradaptasi dengan beberapa bagian tubuh, mungkin kamu bias berkonsultasi kepada ahli gizi/ahli tulang yang dapat melihat secara lebih detil dan menganalisa kondisi tubuh kamu.

Namun, percayalah bahwa Tuhan tidak mungkin menciptakan umatnya tanpa alasan dan sayangi serta cintailah diri kamu. Berhenti membandingkan diri kamu dengan orang lain karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Semangat yaaaa.

Ratih Zulhaqqi, M.Psi

Thursday, February 5, 2015

Bisakah Mata Amblyopia Disembuhkan?

Saya mau tanya nih, saya mengalami aAmblyopia yang disebabkan karena juling. Pertanyaan saya, apakah bisa disembuhkan? Kalau bisa bagaimana caranya? Lalu apakah dengan hardlens bisa membantu? Kisaran harga hardlens untuk 1 mata berapa ya? Terimakasih, ya.

Nimasmiharso (Wanita lajang, 19 tahun)
nimas256XXXXXX@gmail.com
Tinggi badan 160 cm, berat badan 53 kg

Jawaban

Amblyopia adalah penurunan ketajaman penglihatan tanpa dapat terdeteksi adanya penyakit organik di mata. Akibat terburuk adalah terjadi kebutaan monokular. Jadi penderita ambliopia tajam penglihatannya tidak dapat optimal meskipun telah dikoreksi kelainan refraksinya. Amblyopia umumnya mengganggu penglihatan sentral (pusat) sedangkan penglihatan perifer (tepi) normal. Biasanya dialami oleh satu mata, tapi bisa juga mengenai kedua mata.

Amblyopia adalah penyebab tersering gangguan penglihatan monokuler pada anak-anak (usia 3-6 tahun), remaja, dan dewasa muda. Amblyopia dijumpai pada 2–5% populasi.Penyebab amblyopia adalah strabismus (juling), anisometropia (ada perbedaan daya/kekuatan refraksi di kedua mata), oklusi, katarak, visual deprivation (kehilangan penglihatan). Pada jenis atau tipe 'deficiency amblyopia' atau juga disebut dengan istilah 'nutritional optic neuropathy' atau 'tobacco–alcohol amblyopia', penyebabnya adalah kekurangan vitamin B1 atau B12.

Intervensi oftalmologi yang efektif dan paling 'hemat' untuk mengatasi ambliopia adalah terapi laser untuk 'retinopathy of prematurity' dan neovaskularisasi koroid.

Pada amblyopia yang disebabkan oleh juling (strabismic amblyopia, SA), maka dokter mata akan merekomendasikan untuk dilakukan koreksirefraktif sebelum operasi untuk mengatasi juling. Untuk mengatasi penglihatan kabur pada kasus amblyopia , dokter akan memberikan obat dari golongan sikloplegik.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo

Tuesday, February 3, 2015

Cepat Lelah, Gelisah, dan Sesak Napas Jelang Tidur, Tanda Hipertensi Parah?

Dok, saya sudah lama mengalami kondisi sakit dimulai dari bagian lambung sampai jantung. Setelah berobat ke beberapa dokter umum dan spesialis penyakit dalam mulai dari penyakit asam lambung, periksa jantung dan yang terakhir otot yang sering nyeri. Saat ini saya sering merasakan cepat lelah, gelisah, darah tinggi dan sesak napas ketika mau tidur. Yang ingin saya tanyakan, apakah penyakit yang saya derita sudah parah? Kondisi saat ini tensi darah saya 140/100.

Zainul Abidin (Pria menikah, 29 tahun)
z.abidin86XXXXXX@gmail.com
Tinggi badan 158 cm, berat badan 68 kg

Jawaban

Mencermati keluhan Bapak Zainul Abidin di atas, kami berpendapat bahwa Bapak menderita hipertensi stadium I. Hal ini sesuai dengan kriteria JNC VII, dimana untuk hipertensi stadium I memiliki nilai tekanan darah sistolik 140-159 mmHg dan tekanan darah diastolik 90-99 mmHg.

Amatlah disayangkan Bapak tidak menyebutkan telah diberi obat apa oleh dokter untuk menurunkan tekanan darah. Sebab, boleh jadi keluhan yang Bapak rasakan itu sebagai efek samping obat antihipertensi. Berikut ini efek samping obat-obat antihipertensi: konstipasi (sulit buang air besar), batuk, alergi (angioedema), sesak napas, gout, sakit kepala, wajah kemerahan (flushing), hiperglikemia, hiperkalsemia, hipokalsemia, impotensi, letargi (mengantuk), edema (bengkak), hipotensi postural.

Beberapa kemungkinan lainnya, Bapak menderita gangguan lambung dan saluran pencernaan, gangguan saluran pernapasan, chronic fatigue syndrome, fibromyalgia (meskipun peluangnya sedikit). Solusi yang dapat kami sampaikan: hindari terpapar asap (rokok, kendaraan, dsb), berhenti merokok (bila merokok), kebiasaan makan teratur, perbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan segar (dijus lebih baik), minum air putih minimal dua liter per hari, berolahraga secara teratur minimal 30 menit setiap harinya, hindari kerja lembur.

Milikilah sahabat untuk berbagi (curhat), bila ada yang mengganjal hati, tuangkan dalam buku harian, amat baik untuk terapi menulis (meluangkan waktu 1 jam khusus untuk menulis apapun, di buku harian, kertas, dsb). Memiliki mindset (paradigma berpikir) positif, hati yang ikhlas. Bebaskan diri dari semua 'penyakit hati'.

Yang terakhir namun terpenting adalah tingkatkan spiritualitas, dengan beribadah dalam arti luas. Dengan berpola hidup sehat, seimbang, serasi, dan selaras, maka kami yakin Bapak selalu sehat dan bugar setiap harinya.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

dr. Dito Anurogo,